Tidak semua
orang mengalami pengalaman supranatural, karena
pengalaman supranatural adalah anugerah.
Pengalaman ini dialami oleh beberapa orang
tertentu bukan berdasarkan siapakah mereka di
hadapan Tuhan, namun semata-mata berdasarkan
anugerah-Nya. Tuhan memiliki tujuan khusus bagi
orang-orang yang mengalaminya. Ada yang
mengalaminya sehingga ia percaya kepada Kristus,
ada yang mengalaminya sehingga kehidupannya
berubah, ada pula yang mengalaminya sehinga ia
mendapatkan visi yang jelas dari Allah, ada pula
yang mengalaminya sehingga mendapatkan kekuatan
dalam pergumulan yang berat. Namun pengalaman
supranatural bukan satu-satunya cara Allah untuk
menyatakan diri kepada manusia.
Ketiga murid Yesus: Petrus, Yakobus, dan Yohanes
mengalami pengalaman supranatural bukan karena
mereka lebih baik dari yang lain, semata-mata
karena ketiganya diperkenankan Yesus untuk
menyaksikan kemuliaan-Nya. Ia mengajak mereka naik
ke gunung yang tinggi, supaya pengalaman itu hanya
dialami oleh mereka berempat. Di sana mereka
menyaksikan kemuliaan wajah dan pakaian Yesus
bagai matahari dan terang, menandakan betapa
berkilaunya sehingga mereka tak sanggup menatap
secara kasat mata. Di sana pun hadir Elia yang
mewakili nabi dan Musa yang mewakili Taurat.
Pengalaman ini membuat mereka begitu bahagia,
sehingga mereka tidak mau kembali kepada realita
yang penuh penderitaan (ayat 16:24), maka Petrus
menawarkan 3 kemah untuk Yesus, Elia, dan Musa.
Tiba-tiba awan yang terang menaungi mereka dan
terdengar pernyataan Illahi tentang Yesus, Anak
Allah. Puncak penyataan Illahi ini membuat ketiga
murid tersungkur dan sangat ketakutan, sehingga
mereka tidak sanggup lagi menyaksikan peristiwa
selanjutnya.
Pengalaman supranatural bersifat sesaat dan setiap
orang yang mengalaminya harus kembali kepada
realita, karena pengalaman supranatural tidak
bertujuan meninabobokan seseorang, tetapi
memberikan dasar kebenaran bagi seseorang untuk
hidup dalam realita. Pengalaman supranatutal ini
pun bukan untuk dipublikasikan (ayat 9), sehingga
orang yang mengalaminya tidak menjadi sombong
rohani.
Renungkan: Betapa indahnya kesaksian seorang yang
mengalami pengalaman supranatural, yang tidak
berfokus kepada kesombongan rohaninya, tetapi
kepada kemuliaan Yesus Sang Mesias.