Kasih dan Pengampunan

Kejadian 33
Minggu ke-6 sesudah Pentakosta
Ada peribahasa berbunyi seperti ini: ”Pembalasan lebih kejam daripada perbuatan.” Peribahasa ini tertuju kepada orang yang sedang dirasuki dendam. Biasanya Si Pendendam akan berusaha mencari cara membalaskan kesumatnya.
Sebenarnya kerasnya hati seseorang bisa dilembutkan. Bara dendam bisa diredam asal dia rela terbuka terhadap kasih dan pengampunan.
Yakub sadar dengan siapa ia akan berhadapan: Esau, kakak yang pernah ditipunya. Yakub menduga, Esau akan mengamuk jika berjumpa dengannya. Perbuatan curangnya ketika mencuri hak sulung dan berkat Esau, masih menghantuinya. Sesal menerornya. Apalagi, saat dilihatnya Esau datang dengan iringan empat ratus tentara (1). Yakub kalut.
Alkitab menuturkan, Yakub bersujud tujuh kali saat menghampiri kakaknya (3) untuk merendahkan diri. Esau pun luluh. Ia berlari menghampiri, memeluk, bahkan menangis bersamanya (4).
Sungguh, Allah berkenan mengubah hati manusia. Dendam dan permusuhan pun berubah ketika kasih yang bertakhta. Kasih Allah mampu membuat keduanya melupakan getirnya masa lalu.
Dalam berelasi, kita tentu pernah bertengkar dengan sesama. Dalam konflik itu, bisa saja ada yang tersinggung atau sakit hati. Jika dibiarkan, bisa jadi perasaan itu berubah menjadi dendam.
Dalam situasi seperti ini harus ada pihak yang mengalah. Ini bukan hal yang mudah. Ada perasaan takut, malu, dan gengsi, jika kita harus memohon maaf duluan.
Dari bacaan ini kita belajar, Yakub mau mengakui kesalahannya. Dia rela serta merendahkan dirinya. Esau pun mengampuni dan mau menerima adiknya kembali.
Awal pemulihan relasi adalah niat dan keberanian untuk mengambil risiko demi memulai perubahan. Kita harus melawan rasa takut dan prasangka. Untuk itu, kita bisa meniru kisah dua bersaudara ini. Mereka sadar bahwa permusuhan tak selamanya harus dipelihara.
Doa: Tuhan, ajari kami untuk berani mengakui kesalahan dan hidup berdamai dengan orang lain. [SP]
Sugeng Prihadi
Scripture Union Indonesia © 2017. Design & Development by Aqua Genesis