Menjadi Kecil

Matius 11:20-30
Minggu ke-4 sesudah Epifania
Beberapa kota di mana Yesus banyak mengadakan mukjizat justru dikecam. Sekalipun banyak mukjizat yang terjadi di sana, namun mereka menolak untuk percaya. Kebebalan hati mereka disejajarkan dengan dosa kota-kota besar pada masa lampau (20-24). Yesus menyambung kecaman itu dengan ungkapan syukur karena Bapa mengaruniakan pemahaman bukan kepada orang pandai, melainkan kepada orang kecil (25). Setelah itu, Yesus mengundang semua orang datang kepada-Nya dan menerima kelegaan dari segala beban hidupnya (28-30). Saat Yesus mengadakan banyak mukjizat di suatu kota, secara tidak langsung derajat dan status kota tersebut menjadi istimewa di mata banyak orang. Namun, mereka tidak memperoleh pujian, melainkan kecaman dari Yesus. Kebanggaan atas keistimewaan yang mereka miliki justru menjadi tidak berarti karena ketidakpercayaan dan penolakan mereka. Karena itu, Yesus mengatakan bahwa Bapa menyatakan kehendak-Nya kepada orang kecil. Orang-orang kecil adalah orang yang sederhana, tidak berpikir rumit mengenai hidup mereka, dan tidak disibukkan oleh berbagai teori pengetahuan mengenai hal-hal di sekitar mereka. Merekalah yang dapat mengenal kehendak Allah karena ia tidak tertutup oleh konsep dan kerumitan pribadi. Karena itu, Yesus mengundang setiap orang datang dan menerima kelegaan dari-Nya. Saat seseorang hanya hidup dengan cara pandangnya, maka dia tidak bisa melihat karya Tuhan. Jika ia bersedia meletakkan semuanya di hadapan Allah, saat itulah ia merasakan karya Allah sangat nyata. Demikian halnya dengan orang yang berpikir kaku tentang Tuhan tak bisa melihat bahwa Tuhan menyatakan dirinya melalui hal-hal yang tak terduga. Jadi, menjadi kecil berarti menjadi sederhana, baik dalam berpikir, bertindak, dan bersikap. Apakah kita bersedia menjadi kecil? Marilah belajar menjadi sederhana. Semakin sederhana hidup dan pola pikir kita, semakin siap kita melihat karya Tuhan yang Mahabesar. ??
Kristi
Scripture Union Indonesia © 2017. Design & Development by Aqua Genesis