Kekudusan umat Allah

Bilangan 5:1-10

Allah memberikan perintah-perintah ini untuk memelihara kekudusan
bangsa Israel, supaya Ia dapat tetap tinggal di antara umat-Nya
dan memberkati mereka. Ini penting karena Israel akan segera
meninggalkan Sinai dan memasuki Tanah Perjanjian. Tentu saja
perintah ini ditujukan kepada seluruh umat, bukan hanya para
imam.


Untuk menjaga kekudusan umat maka orang yang najis tidak boleh
tinggal di antara komunitasnya selama masa kenajisan mereka.
Mereka harus tinggal di luar perkemahan (1-3). Ini bukanlah
semacam diskriminasi. Tetapi umat Allah harus belajar menjauhkan
diri dari kenajisan sebab Allah yang Maha Kudus berdiam di
tengah-tengah mereka (3). Orang yang hidup dekat dengan Allah
memang harus kudus dan memelihara kekudusan.


Kekudusan bukan hanya harus terjadi dalam hubungan antara umat dan
Allah, tetapi juga perlu berlaku dalam hubungan dengan sesama.
Orang yang berdosa terhadap umat Allah berarti sudah berlaku
tidak setia kepada Allah (6). Dalam hal ini berlaku peraturan
bahwa orang yang berdosa terhadap orang lain (tampaknya dalam hal
kepemilikan harta benda), harus mengakui dosanya terlebih dulu
lalu membayar restitusi dan tambahan yang diperlukan sebagai
kompensasi (5-7). Bila orang itu telah meninggal maka kompensasi
harus dibayarkan kepada kaumnya. Bila tidak ada kaumnya maka
kompensasi harus dipersembahkan kepada Tuhan (8).


Dari masyarakat purba ini, kita belajar bahwa kesalahan terhadap
orang lain harus diselesaikan dengan baik. Meski permintaan maaf
adalah langkah awal yang harus dilakukan untuk memulihkan
hubungan dengan orang lain, itu tidak menghilangkan kewajiban
untuk memberikan ganti rugi bila perbuatan kita telah merugikan
orang tersebut. Prinsip itu tetap relevan bagi kita yang hidup di
zaman ini. Yang teramat penting bila kita bersalah perlu memohon
pengampunan Allah di dalam Yesus Kristus. Itu perlu diikuti
dengan pemberesan dalam hubungan sosial kita.

Scripture Union Indonesia © 2017. Design & Development by Aqua Genesis